<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	>

<channel>
	<title>Chamber of Thought</title>
	<atom:link href="http://rynlec.blogdetik.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://rynlec.blogdetik.com</link>
	<description></description>
	<pubDate>Fri, 03 Jun 2011 08:48:03 +0000</pubDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.7</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Maaf by Raymond [Highly Recommended Song!]</title>
		<link>http://rynlec.blogdetik.com/2011/06/03/maaf-by-raymond-highly-recommended-song/</link>
		<comments>http://rynlec.blogdetik.com/2011/06/03/maaf-by-raymond-highly-recommended-song/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 03 Jun 2011 08:44:44 +0000</pubDate>
		<dc:creator>rynlec</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Tak Berkategori]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rynlec.blogdetik.com/?p=23</guid>
		<description><![CDATA[
Kali ini saya akan memberi sedikit review buat lagu Maaf yang dinyanyikan oleh Raymond.
Lagu di album perdananya yang berjudul Step Out ini bernuansa melankolis, dari interpretasiku sih, tentang seorang kekasih yang pada akhirnya memutuskan untuk berpisah dengan pasangan hatinya setelah mencoba bertahan sekian lama. Lagu yang diciptakan oleh Raymond sendiri ini, terdengar cocok dengan karakter [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="https://www.facebook.com/pages/Raymond-STEP-OUT/202969689746218?sk=wall&amp;filter=1"><img class="aligncenter size-medium wp-image-24" src="http://rynlec.blogdetik.com/files/2011/06/248427_202980743078446_202969689746218_547559_863554_n1-200x300.jpg" alt="Raymond-Step Out" width="200" height="300" /></a></p>
<p>Kali ini saya akan memberi sedikit review buat lagu Maaf yang dinyanyikan oleh Raymond.</p>
<p>Lagu di album perdananya yang berjudul Step Out ini bernuansa melankolis, dari interpretasiku sih, tentang seorang kekasih yang pada akhirnya memutuskan untuk berpisah dengan pasangan hatinya setelah mencoba bertahan sekian lama. Lagu yang diciptakan oleh Raymond sendiri ini, terdengar cocok dengan karakter vokalnya. Ibarat kopi dicampur dengan susu, Pas! Nggak heran kalau hanya dalam beberapa hari setelah peluncuran videonya di Youtube, lagu ini mampu mencetak angka lebih dari 1000 <em>viewers</em>.</p>
<p>Tentang video klipnya, klasik! Grand Piano berwarna putih benar-benar mampu menyita perhatianku. Setting-nya menyeretku pada beberapa puluh tahun lalu pada masa penjajahan Jepang; sang pria naik sepeda, sementara wanitanya memakai kimono dengan sangat anggun. Secara keseluruhan, membuat video klip ini beda dari yang lain.</p>
<p>Dan buat orang-orang yang sudah sangat amat pesimis dengan musik pop Indonesia di era 2010-an, lagu dari Raymond ini bisa menjadi salah satu pembangkit optimisme kita: bahwa musik pop Indonesia masih bagus, kok! <img src='http://rynlec.blogdetik.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
<p>Penasaran? Follow this youtube link: <a href="http://www.youtube.com/watch?v=7ABJAg_GiYI">Maaf-Raymond</a>.</p>
</fieldset>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rynlec.blogdetik.com/2011/06/03/maaf-by-raymond-highly-recommended-song/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Pria Sukses, Wanita Hebat?</title>
		<link>http://rynlec.blogdetik.com/2011/05/23/pria-sukses-wanita-hebat/</link>
		<comments>http://rynlec.blogdetik.com/2011/05/23/pria-sukses-wanita-hebat/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 23 May 2011 04:01:55 +0000</pubDate>
		<dc:creator>rynlec</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Tak Berkategori]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rynlec.blogdetik.com/?p=11</guid>
		<description><![CDATA[ Di balik seorang pria sukses, pasti ada wanita hebat. Kali ini saya nggak akan mempermasalahkan tentang kebenaran kalimat yang satu ini, yang ingin saya pertanyakan adalah, wanita hebat yang seperti apa?  Kali ini pria sukses sengaja saya identikkan dengan seorang yang berhasil merintis karirnya sendiri, dalam artian bukan melanjutkan atau bekerja pada orang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://2.bp.blogspot.com/_b4wTVjgissI/TTdLDgPY06I/AAAAAAAAAeE/yiaiYvEMZfI/s1600/gender_equality_by_meppol.jpg"><img class="aligncenter" src="http://2.bp.blogspot.com/_b4wTVjgissI/TTdLDgPY06I/AAAAAAAAAeE/yiaiYvEMZfI/s1600/gender_equality_by_meppol.jpg" alt="" width="800" height="800" /></a> <strong>Di balik seorang pria sukses, pasti ada wanita hebat. </strong>Kali ini saya nggak akan mempermasalahkan tentang kebenaran kalimat yang satu ini, yang ingin saya pertanyakan adalah, wanita hebat yang seperti apa?  Kali ini pria sukses sengaja saya identikkan dengan seorang yang berhasil merintis karirnya sendiri, dalam artian bukan melanjutkan atau bekerja pada orang tua maupun kerabat. Kesuksesannya sendiri bisa disebabkan oleh bermacam hal; kerja keras, niat, dukungan dari orang sekitar, serta koneksi yang luas. Hal pertama yang kemudian muncul di imajinasi saya saat membayangkan pria yang sukses (dalam hal ini secara materi) adalah seorang yang sibuk, bahkan mungkin, super sibuk. Pikiran ter-ekstrim mengatakan bahwa orang ini mungkin saja memprioritaskan pekerjaan di atas segala sesuatu (<em>workaholic)</em>, misalnya saja keluarga.</p>
<p>Di sini peran seorang wanita hebat diperlukan. Dengan kesibukan pasangannya yang seperti itu, seorang wanita harus dengan sekuat tenaga menahan dirinya untuk tidak terlalu banyak menuntut waktu bersama. Termasuk juga menahan dirinya dari hasrat untuk pasangan baru, yang bisa memberikan perhatian lebih intensif dibanding pasangannya yang sukses (baca: sibuk) ini.</p>
<p>Pria yang sukses, dalam benakku, juga merupakan pria yang memiliki banyak penggemar wanita. Tampang dan hati menjadi prioritas ke-sekian. &#8220;Mau jelek kaya apa juga, kalo tajir, siapa yang nggak mau?&#8221; Mungkin sebagian dari kita berpikir bahwa hal ini hanya berlaku di sinetron-sinetron Indonesia, <em>but that happens. dude! </em>Sinetron itu benar-benar jadi cerminan bahwa banyak banget wanita (ehem, di Indonesia) yang menggantungkan kebahagiaannya pada harta pasangannya. Sebuah pemikiran yang menurutku terlalu kolot,  bahkan kampungan, dan dengan sendirinya merendahkan martabat wanita. Kekayaan duniawi memang, tidak bisa dipungkiri, mampu memenuhi hasrat wanita (baca: belanja) dan memberi kebahagiaan tersendiri. Namun, bergantung pada kekayaan orang lain justru malah membuat martabatnya terinjak-injak.</p>
<p>Berangkat dari kenyataan di atas, seorang wanita hebat adalah dia yang mampu membangun pondasi hubungan yang kokoh, serta senantiasa menjaga hubungan itu agar tidak dengan mudahnya dirobohkan oleh orang lain.  Deskripsi wanita hebat di atas masih terlalu pasif. Belum &#8216;wah&#8217; kala seorang wanita hanya mampu memahami dan menerima keadaan seperti itu. Yang terpenting adalah seorang wanita harus bisa berusaha dengan kemampuannya sendiri untuk memenuhi kebutuhan. Wanita hebat adalah dia yang bisa membebaskan dirinya dari jeratan pemikiran kolot, sehingga ia dengan tanpa beban mampu membaca dunia dengan sudut pandangnya sendiri.</p>
</fieldset>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rynlec.blogdetik.com/2011/05/23/pria-sukses-wanita-hebat/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Pintar Akademis dan Peduli Sosial</title>
		<link>http://rynlec.blogdetik.com/2011/05/11/pintar-akademis-dan-peduli-sosial/</link>
		<comments>http://rynlec.blogdetik.com/2011/05/11/pintar-akademis-dan-peduli-sosial/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 11 May 2011 07:28:43 +0000</pubDate>
		<dc:creator>rynlec</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Tak Berkategori]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rynlec.blogdetik.com/?p=10</guid>
		<description><![CDATA[
Menerapkan standar akademik tinggi, plus disiplin tinggi dalam proses belajar mengajar. Biaya sekolah dengan subsidi silang. Mengasah siswa menjadi generasi pembaharu dunia yang unggul dan peduli sesama.
Jam sekolah sudah selesai. Sekolah juga sudah sepi. Namun, Jumat malam di akhir April itu, delapan siswa masih tampak sibuk di depan ruang kelas. Mereka, para siswa SMA Kolese [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: center"><img class="alignleft size-medium wp-image-18" src="http://rynlec.blogdetik.com/files/2011/05/img_0440-300x225.jpg" alt="loli" width="300" height="225" /><img class="size-medium wp-image-17 aligncenter" src="http://rynlec.blogdetik.com/files/2011/05/dsc_1677-1-300x199.jpg" alt="ud1" width="300" height="199" /></p>
<p><em>Menerapkan standar akademik tinggi, plus disiplin tinggi dalam proses belajar mengajar. Biaya sekolah dengan subsidi silang. Mengasah siswa menjadi generasi pembaharu dunia yang unggul dan peduli sesama.</em></p>
<p>Jam sekolah sudah selesai. Sekolah juga sudah sepi. Namun, Jumat malam di akhir April itu, delapan siswa masih tampak sibuk di depan ruang kelas. Mereka, para siswa SMA Kolese Loyola Semarang itu, sedang menyiapkan karya untuk pelajaran seni. <em>Styrofoam</em> dan cat air berceceran di depan kelas. Inilah Loni atau Loyola Night. Loni menjadi tradisi yang secara mandiri digelar siswa SMA yang berlokasi di Jalan Karanganyar, Semarang, itu.</p>
<p>Mereka belajar mandiri secara berkelompok di luar sekolah. Tak hanya pelajaran seni, juga bermacam pelajaran lainnya. Biasanya salah satu siswa yang unggul dalam satu mata pelajaran menjadi mentor. Loni semakin giat dilakukan tatkala menjelang ujian. Pihak sekolah sendiri tak mengharuskan Loni itu, tapi mendorong dan memfasilitasinya.</p>
<p>Wakil Kepala SMA Kolese Loyola Bidang Kesiswaan, Romo Albertus Buddy Haryadi, menuturkan bahwa tradisi Loni itu terbentuk untuk memperkuat kemampuan siswa. Loni sangat membantu siswa untuk berprestasi. &#8220;Mereka yang pintar bisa berbagi dan yang tertinggal bisa turut memberi sesuatu,&#8221; katanya. Pada saat ini, ada 685 siswa di SMA Loyola. Rencananya untuk tahun ini, daya tampung sekolah ini dinaikkan menjadi 720-730 siswa.</p>
<p>Siswa secara sukarela menjalani Loni itu karena SMA Loyola menerapkan standar tinggi dalam hal akademis. Selama studi, mereka harus mendapatkan nilai minimum 70 di setiap mata pelajaran. Siswa yang nilainya di bawah standar harus mengikuti jam ekstra dengan pendampingan guru.</p>
<p>Dalam hal kedisiplinan, SMA Loyola juga menerapkan aturan ketat. Misalnya, siswa tak boleh mencontek selama ujian. Hukumannya, siswa akan dikeluarkan bila ketahuan dua kali mencontek. &#8220;Bahkan ketahuan <em>nyontek</em> sekali saja bisa terancam tak lulus,&#8221; kata Romo Buddy. Contoh lainnya adalah kedisiplinan dalam menjaga kebersihan sekolah dan datang sebelum jam pelajaran dimulai.</p>
<p>Tak hanya pendidikan akademis, SMA loyola juga mewajibkan siswa kelas I dan II mengikui dua kegiatan ekstrakurikuler (ekskul), yaitu seni dan olahraga. Ekskul seni itu antara lain paduan suara, melukis, dan karawitan. Sejak tahun 1960, Kolese Loyola memiliki Grup Gamela Soepra, kombinasi antara gamelan, band, dan biola yang memainkan nada-nada diatonis, bukan pentatonis.</p>
<p>Sedangkan ekskul olahraga antara lain sepak bola, bola basket, tenis meja, bola voli dan bulu tangkis. di luar itu, juga ada kegiatan ekskul yang lain, yakni kepemimpinan, komputer, jurnalistik, karya ilmiah, dan fotografi. Baik pelajaran akademis maupun ekskul itu berada dalam bimbingan guru yang berjumlah 54 orang. &#8220;Sebanyak 14 orang di antaranya S-2,&#8221; ujar Romo Buddy.</p>
<p>Berbagai kegiatan di SMA Loyola itu, kata Romo Buddy, ditujukan untuk mencetak generasi pembaharu dunia yang unggul dalam bidang akademis dan kepribadian. Hal ini dituangkan dalam tiga prinsip: competence, conscience, dan compassion.</p>
<p><em>Competence, </em>mengacu pada keunggulan akademik. SMA LOyola bekerja sama dengan Universitas New South Wales dan Monash, Australia, pada tahun ini. &#8220;Lulusan Loyola bisa langsung mendaftar di kampus itu,&#8221; katanya. Selain itu, Kolese Loyola juga punya program pertukaran pelajar dengan Wahyan College di Hong Kong dan St. Ignatius, Adelaide, Australia.</p>
<p><em>Conscience </em>menyangkut kesadaran dan hati nuarni. Hal ini dilakukan melalui pendidikan olahraga dan seni. Juga ada pendidikan agama. Sekolah ini berada dalam naungan ordo Serikat Jesus (SJ) &#8212; Sama dengan Kolese Kanisius, Gonzaga, dan De Britto.</p>
<p>Perbedaan sekolah dalam naungan ordo ini dibandingkan dengan sekolah Katolik lainnya ada pada pengajarannya. Jika sekolah Katolik lain diajar oleh bruder atau suster, di sekolah ini siswa langsung diajar oleh para romo atau imam. &#8220;Sehingga pengajaran akademik dan spiritual bisa langsung dan menyatu,&#8221; tutur Romo Buddy.</p>
<p>Sedangkan <em>compassion</em> berkaitan dengan kepedulian sosial. Ada program <em>live in</em> selama lima hari di pedesaan Wonosari, Gunung Kidul, Yogyakarta. Dalam kegiatan ini, siswa mengunjungi panti asuhan dan rumah sakit jiwa. &#8220;Bukan sekedar berkunjung, melainkan juga ikut bekerja menjadi petugas sosial.&#8221; Romo Buddy menambahkan. Selama program live in itu mereka tinggal di rumah penduduk.</p>
<p>Sepintas, murid SMA Loyola terlihat bebas. Mereka tidak mengenakan seragam. Menurut Romo Buddy, tradisi tak berseragam ini punya alasan. &#8220;Itu bagian dari kecerdasan siswa untuk menimbang pakaian yang tepat dan pantas ia kenakan ke sekolah,&#8221; katanya.</p>
<p>Adapun untuk biaya sekolah, Romo Buddy menolak menyebutkan besarannya. &#8220;Yang jelas, ada subsidi silang,&#8221; ujarnya. Subsidi silang ini, misalnya, berlaku bagi Anisa Fajaryani. Pada saat masuk SMA Loyola, ia sebenarnya tak dikenai uang masuk. &#8220;Tapi saya nggak enak, maka saya bayar saja Rp 500.000,&#8221; kata Sawabi, ayah Anisa Fajaryani.</p>
<p>Untuk SPP, ia hanya membayar Rp 50.000 ketika duduk di kelas I dan Rp 60.000 pada saat kelas II. Bagi siswa yang kaya,uang pangkal masuk sekolah ini bisa mencapai Rp 15 juta hingga Rp 30 juta. Untuk SPP, ada yang membayar lebih dari Rp 1 juta.</p>
<p>Keluarga Anisa Fajaryani memang tergolong kurang mampu. Ayahnya seorang tukang becak dengan penghasilan harian Rp 10.000 hingga Rp 40.000. &#8220;Tergantung ramai penumpang atau <em>nggak,&#8221; </em>tutur Sawabi.</p>
<p>Sawabi menjadi tukang becak sejak 1999, setelah di-PHK dari posisinya sebagai pegawai toko. Ia sempat mencoba berdagang angkringan, tapi selalu dikejar-kejar petugas satpol PP hingga banting setir menjadi tukang becak.</p>
<p>Ketika mendapat keringanan biaya sekolah dari SMA Loyola, Sawabi tak perlu menyertakan surat keterangan miksin. &#8220;ada survei diam-diam. Pokoknya kami harus jujur dan jangan minder,&#8221; katanya.</p>
<p>Ira Puspitasari, alumnus SMA Kolese Loyola Semarang tahun 1984, menilai model subsidi silang itu tak hanya meringankan siswa yang tidak mampu. &#8220;Juga mendidik orangtua murid memiliki jiwa sosial dengan membantu yang lemah,&#8221; kata ibu tiga anak itu.</p>
<p>Sebagai alumnus SMA Loyola, Ira kesengsem pada model pengajaran di almamaternya. Karena itulah ia juga menyekolahkan anaknya di SMA Loyola. Anak keduanya, Claudia Tejasaputra, kini duduk di bangku kelas II&gt; Anak sulungnya, Chintya Tejasaputra, yang kini sedang kuliah di Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, juga lulusan SMA Loyola.</p>
<p>Ira berencana, anak bungsunya, David Tejasaputra, juga akan disekolahkan di Kolese Loyola. Kini David masih duduk di kelas II SMP.</p>
<p>Kolese Loyola, kata Ira, memiliki keunggulan tersendiri, sehingga ia ingin semua anaknya masuk sekolah ini. &#8220;Loyola tak hanya menekankan pada pendidikan akademis, melainkan juga kepedulian sosial,&#8221; katanya.</p>
<p>Pintar secara akademis, menurut Ira, sangat penting. Tapi kalau tak memiliki kepedulian sosial terhadap lingkungannya, sama juga bohong. &#8220;Mereka akan hidup di masyarakat dan harus bisa bergaul dengan baik,&#8221; Ira menambahkan.</p>
<p>Irwan Andri Atmanto dan Arif Koes Hernawan (Semarang)</p>
<p>&#8211; Dikutip dari Majalah Gatra Edisi Khusus Pendidikan No. 26 tahun XVIII. 5-11 Mei 2011&#8211;</p>
</fieldset>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rynlec.blogdetik.com/2011/05/11/pintar-akademis-dan-peduli-sosial/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Remember When - Winna Efendi</title>
		<link>http://rynlec.blogdetik.com/2011/05/11/remember-when-winna-efendi/</link>
		<comments>http://rynlec.blogdetik.com/2011/05/11/remember-when-winna-efendi/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 10 May 2011 17:39:20 +0000</pubDate>
		<dc:creator>rynlec</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Tak Berkategori]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rynlec.blogdetik.com/2011/05/11/remember-when-winna-efendi/</guid>
		<description><![CDATA[Aku selalu menyukai penulis dari bukunya. Dan dari buku-bukunya, aku akan menyukai buku selanjutnya.
Ai dan Refrain adalah dua buku karangan Winna Efendi yang sudah kulahap beberapa waktu yang lalu. That\&#8217;s why saat tahu dia akan menelurkan lagi Remember When, mataku selalu mencari novel itu di pojok &#8220;New Arrival&#8221;, &#8220;Recommended&#8221;, dan &#8220;Best Seller&#8221;.
Alhasil baru beberapa hari [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignright size-full wp-image-9" src="http://rynlec.blogdetik.com/files/2011/05/cover-depan-remember-when1.jpg" alt="remember" width="218" height="320" />Aku selalu menyukai penulis dari bukunya. Dan dari buku-bukunya, aku akan menyukai buku selanjutnya.</p>
<p>Ai dan Refrain adalah dua buku karangan Winna Efendi yang sudah kulahap beberapa waktu yang lalu. That\&#8217;s why saat tahu dia akan menelurkan lagi Remember When, mataku selalu mencari novel itu di pojok &#8220;New Arrival&#8221;, &#8220;Recommended&#8221;, dan &#8220;Best Seller&#8221;.</p>
<p>Alhasil baru beberapa hari yang lalu aku bisa mendapatkan<em> Remember When, </em> di saat keesokan harinya aku harus menghadapi dua ujian susulan mata kuliah Hk. Perdata dan Pidana dalam satu hari!</p>
<p>Hal pertama yang saya suka dari novel ini adalah alur cerita yang mengalir, tidak terkesan terburu-buru, dan akhir cerita yang sulit untuk diprediksikan sebelumnya. Menuliskan kisah dengan 4 narator pasti bukanlah hal yang mudah. Di sini pulalah kehebatan sang penulis yang mampu membuat pembaca (ya, setidaknya saya) bisa \&#8217;lompat\&#8217; dari jiwa satu ke yang lain.</p>
<p>Setting tempat? kali ini latarnya tidak terlalu dideskripsikan dengan jelas, setidaknya tidak segamblang penggambaran tempat di novel Ai. Mungkin karena novel ini memfokuskan pada kehidupan anak SMA yang benar-benar biasa, walaupun kisah cinta yang mereka punya benar-benar tak biasa. Beberapa bagian dari novel ada yang salah ketik, tapi buatku itu nggak jadi masalah, karena toh aku masih bisa mengerti apa yang dimaksudkan oleh si penulis <img src='http://rynlec.blogdetik.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
<p>Setiap tokoh digambarkan secara berbeda. Freya yang <em>freakin genius, </em>Moses si siswa teladan yang sangat menghargai wanita, Adrian si jago basket yang selalu <em>easy going,</em> Gia, cewek paling cantik dan ngetop se-sekolah, dan Erik, orang yang paling mengerti Freya sekaligus cowok ter-blak-blakan yang pernah kutemui dalam novel. Siapa yang bakal menduga kalau cinta akan tumbuh di antara mereka yang sudah terikat komitmen dengan orang lain?</p>
<p>Di sinilah bagian yang beda dari novel ini, bagian yang membuatku kadang menutup novel untuk sekadar menghela nafas. Mencoba memasuki posisi mereka satu per satu. Tidak ada satu dari ke-empatnya yang merasa biasa-biasa saja. Ini ujian cinta dan persahabatan yang sangat rumit, berat, tak dapat diungkapkan hanya dengan sebaris dua baris kata.</p>
<p>Remember When, seolah ingin mengungkapkan pesan: &#8220;Ingatkah saat kita melewati senja berdua？memang tanpa <strong>kata</strong> cinta, namun seberapa kuat kita berusaha menepis, kita akan semakin sadar bahwa cinta adalah <strong>rasa</strong> yang membuat kita ada di sini, berdua.&#8221;</p>
</fieldset>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rynlec.blogdetik.com/2011/05/11/remember-when-winna-efendi/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Maastricht Guide - Perjalanan Singkat Nekad Traveller</title>
		<link>http://rynlec.blogdetik.com/2011/04/16/maastricht-guide/</link>
		<comments>http://rynlec.blogdetik.com/2011/04/16/maastricht-guide/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 15 Apr 2011 18:23:34 +0000</pubDate>
		<dc:creator>rynlec</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Tak Berkategori]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rynlec.blogdetik.com/?p=4</guid>
		<description><![CDATA[
Maastricht? Pertama kali mendengar tentang kota itu, bayangan yang terlintas di kepalaku adalah kota terpencil di ujung selatan Belanda. Benar-benar terpencil, mungkin seperti &#8216;desa&#8217;-nya Belanda. Maka dari itu aku sudah mengubur dalam nafsu belanja dari sebelum berangkat, dengan asumsi nggak ada yang bisa kita lakukan di desa selain menikmati pemandangan dan berkompetisi seperti yang telah [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="aligncenter size-full wp-image-16" src="http://rynlec.blogdetik.com/files/2011/04/maasriver.jpg" alt="maasriver" width="697" height="463" /></p>
<p>Maastricht? Pertama kali mendengar tentang kota itu, bayangan yang terlintas di kepalaku adalah kota terpencil di ujung selatan Belanda. Benar-benar terpencil, mungkin seperti &#8216;desa&#8217;-nya Belanda. Maka dari itu aku sudah mengubur dalam nafsu belanja dari sebelum berangkat, dengan asumsi nggak ada yang bisa kita lakukan di desa selain menikmati pemandangan dan berkompetisi seperti yang telah dijadwalkan.</p>
<p>Perjalanan Jakarta-Dubai-Amsterdam ditempuh dalam waktu 18 jam. Terimakasih kepada Garuda Indonesia atas kenyamanan dan keramahan yang senantiasa menemani selama perjalanan <img src='http://rynlec.blogdetik.com/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif' alt=':D' class='wp-smiley' /> Sampai di Amsterdam, kami bertemu Pak Munir, staf KBRI di Belanda. Beliaulah yang mengantarkan kami membeli tiket untuk ke Maastricht. Saat itu hari Selasa, 5 April 2011, dari Schiphol Amsterdam, kami harus berganti kereta di Utrecht untuk menuju Maastricht. Perjalanan Amsterdam-Maastricht memakan waktu kurang lebih 2 jam.</p>
<p>Sesampainya di sana, kami dijemput oleh Student Committee dari ICCC 2011; Milad dan Otis. Kejadian memalukan saat aku mau masuk mobil. Kemudi mobil eropa kan berada di sebelah kiri, berkebalikan dengan kemudi di Indonesia. Nah, dengan pedenya aku masuk ke sebelah kiri, begitu buka pintu, lalu nyeletuk &#8220;Lho kok setir?&#8221; Sementara ketiga teman seperjalananku ketawa nggak berhenti di bangku belakang.</p>
<p>Hal pertama yang kami lakukan adalah makan! kebetulan sekali letak hotel yang kami pesan secara online berada di dekat pusat kota. di sebelah kanan ada McD, di seberang hotel ada Zara, toko buku, dan berbagai macam pusat perbelanjaan yang lain, sementara di sebelah kiri terdapat Albert Heijn, yang lalu menjadi supermarket favorit kami.</p>
<p>Hari pertama kami menghabiskan malam di Maastricht dengan makan sushi dan sour belt yang kami beli di Albert Heijn. Gara-gara jet lag, kami sudah tertidur pukul 19.30 dan bangun jam 04.00 tanpa tahu apa yang harus dikerjakan. alhasil, kami berempat berada di satu kamar sambil nonton Dora The Explorer versi belanda, dan menemukan bahwa bahasa belanda yang diserap oleh Indonesia lumayan banyak juga, salah satunya <strong>plakban!</strong> Baru kali ini merasakan serunya nonton dora the explorer.</p>
<p>Berikut fakta yang berhasil kudapatkan:</p>
<p>1. Toko-toko di Maastricht buka dari Senin-Sabtu, Minggu Libur. Itupun hanya buka dari jam 10.00-18.00, di hari Sabtu, rata-rata mereka tutup jam 17.00. Sementara hari kamis, toko buka sampai pukul 21.00.</p>
<p>2. Kalau belanja dan minta tas plastik, kita akan di charge 20 sen. Jadi itulah kenapa banyak orang yang kutemui di sana pada bawa tas belanjanya masing-masing.</p>
<p>3. Banyak gereja di sana yang sudah tidak terpakai karena ditinggalkan umatnya. khusus yang satu ini memang agak memprihatinkan karena bangunan gereja di Maastricht benar-benar mengagumkan; dan sekarang kebanyakan dari tempat itu telah beralih fungsi menjadi apa saja, salah satunya toko buku.</p>
<p>4. Meskipun di Google Map Maastricht digambarkan begitu luas, dan kemana-mana jauh. Ternyata Maastricht itu kecil kok. Nggak sengeri yang terbayangkan saat membaca google map (ini mungkin bukan kesalahan peta, tetapi kesalahan yang membaca karena nggak memperhatikan skala)</p>
<p>5. Suhu udara waktu musim semi seperti ini berkisar 8-17 derajat Celcius. Tapi kalau beruntung bisa sampai 20. Matahari terbit sekitar pukul 07.00 waktu setempat, dan baru terbenam pukul 20.30.</p>
<p>6. Siapa bilang Maastricht bukan tempat belanja? Maastricht adalah surga belanja! karena kotanya relatif kecil, kita nggak perlu naik alat transportasi apapun untuk pergi dari satu tempat belanja ke tempat belanja yang lain. Mereka semua deketan kok! Tapi ya tentu saja bukan dekat dengan definisi orang Indonesia lho ya. Pusat Perbelanjaan terletak di sekitaran Town Hall; ada H&amp;M, Esprit, The Sting, dll. Ada juga toko sepatu di basement; tapi harus pinter-pinter milih juga karena nggak semua sepatunya enak; maklum, merk nya juga agak nggak jelas gitu.</p>
<p>Tempat yang selalu rame kalo siang itu di Muntstraat, Grotestraat, dan gang-gang kecil di daerah sekitaran Vrijhoft yang lain. Kanan kiri isinya toko semua; mulai dari toko buku, baju, pernak pernik, supermarket, sejujurnya yang paling banyak sih sepatu. Nah toko sepatu di sini lebih mahal harganya, tapi memang sepatunya lebih nyaman dipakai.</p>
<p>Kalau mau beli oleh-oleh khas maastricht, coba deh ke Platielstraat dan sekitarnya. Tapi kalau khas Belanda, beli aja di Blokker, pilihannya banyak. Ada juga sih satu toko di daerah Townhall, deketnya Burger King, tapi sepertinya lebih enak milih di Blokker, mungkin karena Blokker itu supermarket ya, jadi lebih meyakinkan. Jangan lupa kalau beli barang pecah belah, minta dibungkusin dulu.</p>
<p>Tempat yang jual asian cuisine itu di daerah Townhall, turun aja pake  eskalator ke basement, tempatnya di sebelah Jumbo. Ada patung kucing khas cina yang melambai-lambai itu. Sementara kalau makanan dan cemilan biasa, Albert Heijn tergolong murah sih, dan lengkap lagi.</p>
<p><strong>*tips belanja: </strong>jangan heran kalau nemuin barang2 di sana yang &#8220;Made in Indonesia&#8221;; dan jangan pula dibeli. Rata-rata barang di Maastricht buatan Indonesia, Bangladesh, Cambodia, dan tak lupa China. Sekalinya liat barang, bagus, tapi begitu &#8220;made in China&#8221; wah langsung kabur, ilfil. Juga tidak disarankan beli barang elektronik di sana. Karena apa? Karena rata-rata barang elektronik (HP, lensa, kamera, dll) buatan Cina juga, lebih murah beli di Indonesia.</p>
<p>7. Di Maastricht, harga susu relatif lebih murah. Saranku mending beli susu yang fresh, jangan yang halfvolle karena itu rasanya kaya keju, eneg banget. Nggak semua orang bisa suka, kecuali memang benar-benar penggemar susu.</p>
<p>8. Tempat makan? Pertama kali sih kami ketemu sama tempat makan yang namanya &#8220;Something Good&#8221; yang menyajikan menu halal dan juga menu vegetarian. Harganya lumayan terjangkau, lebih murah dan lebih mengenyangkan daripada McDonalds. Tempatnya ada di Tongersestraat, dekat Fakultas Ekonomi-nya Maastricht University. Di dekat &#8220;Something Good&#8221; juga ada Kiwi. Resto ini punya desain interior yang hampir sama kaya Dixie nya Jogja :p harga makanannya emang lebih mahal sih, tapi yang nyenengin adalah porsi dan rasa makanan nggak pernah mengecewakan walau harganya mahal.</p>
<p>9. Berhati hatilah kalau pesen atau makan keju. karena nggak semua keju enak seperti yang biasa kita makan di Indonesia.</p>
<p>10. Yang <strong>wajib</strong> dikenal (paling nggak kenal lah ya, ga usah beli juga gapapa kalau merasa sudah terlalu tua) adalah boneka kelinci khas belanda yang namanya Miffy, dalam bahasa belanda, namanya Nijntje (baca; naince) Bisa dibeli di blokker, tapi ada juga toko tersendiri yang khusus menjual pernak pernik miffy. Namanya de winkel van nijntje. tokonya di gang deket sungai Maas, tapi aku nggak tahu persisnya di mana. Cuma siap-siap aja kalau mau beli yang besar, bonekanya bisa lebih mahal dari sepatu Timberland :p</p>
<p>11. Kalau mau tau jadwal kereta api yang berangkat dari Schiphol ke Maastricht, liat link ini aja <a href="http://www.ns.nl/cs/Satellite/travellers">http://www.ns.nl/cs/Satellite/travellers</a>; Kalau bepergian di hari Minggu, harus transit dua kali, agak merepotkan sih, apalagi buat yang bawa koper berat.</p>
<p>12. Kalau musim dingin nggak usah bawa baju banyak-banyak. menurut pengamatanku, orang-orang di sana ganti baju bisa tiga hari sekali; karena emang nggak berkeringat. Jadi sewaktu berangkat, mending bawa baju dikit aja, nanti beli &#8216;isi koper&#8217; di Maastricht <img src='http://rynlec.blogdetik.com/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif' alt=':D' class='wp-smiley' /> </p>
<p>Segini dulu deh info sotoy dari Nekad Traveller yang cuma 5 hari efektif di Maastricht. Daaag..</p>
</fieldset>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rynlec.blogdetik.com/2011/04/16/maastricht-guide/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Internet-ku Sehat, Bangsaku Kuat</title>
		<link>http://rynlec.blogdetik.com/2010/11/17/internet-sehat/</link>
		<comments>http://rynlec.blogdetik.com/2010/11/17/internet-sehat/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 17 Nov 2010 02:01:18 +0000</pubDate>
		<dc:creator>rynlec</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Tak Berkategori]]></category>

		<category><![CDATA[FESTIVAL BLOG 2010]]></category>

		<guid isPermaLink="false"></guid>
		<description><![CDATA[Perkembangan IPTEK cenderung memanjakan komunitas di zaman ini. Semuanya menjadi serba mudah, cepat, dan cenderung murah dibandingkan dengan sistem yang dulu ada. Ibarat artis dangdut, surat elektronik sangat populer, sementara pengiriman surat melalui kantor pos sudah tidak populer karena dimakan usia. Selain itu, pengiriman surat elektronik dianggap lebih praktis, hemat waktu dan tenaga. Kita tidak [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal"><img class="alignleft" src="http://dalmuji.files.wordpress.com/2009/10/bisnis_internet_oywh.jpg" alt="" width="330" height="220" />Perkembangan IPTEK cenderung memanjakan komunitas di zaman ini. Semuanya menjadi serba mudah, cepat, dan cenderung murah dibandingkan dengan sistem yang dulu ada. Ibarat artis dangdut, surat elektronik sangat populer, sementara pengiriman surat melalui kantor pos sudah tidak populer karena dimakan usia. Selain itu, pengiriman surat elektronik dianggap lebih praktis, hemat waktu dan tenaga. Kita tidak perlu repot-repot mengorbankan jam makan siang dan bertarung di bawah sengatan sinar matahari untuk pergi ke kantor pos; tinggal duduk di depan laptop, mencari koneksi <em><a href="http://telkomspeedy.com/">internet</a></em>, dan mengirimkan pesan saat itu juga melalui surat elektronik alias <em>e-mail</em>.</p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal">Kemudahan lain yang kita dapatkan dari <em><a href="http://telkomspeedy.com/">internet</a></em> misalnya dalam hal pertemanan melalui jejaring sosial. Kita bisa terhubung dengan keluarga, kerabat, dan teman-teman dalam satu situs yang menawarkan berbagai macam fasilitas; berbagi foto, video, tulisan, bertukar komentar, saling memberi kabar, mengucapkan selamat ulangtahun, bahkan situs jejaring sosial pun kini menjadi sarana untuk mengirimkan undangan acara (pernikahan, seminar, pesta ulangtahun). Tampaknya hampir semua kebutuhan komunikasi manusia dapat terakomodasi dalam satu situs jejaring sosial.</p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal">Dengan adanya <em><a href="http://telkomspeedy.com/">internet</a></em>, kita juga bisa mendapatkan kabar yang aktual. Kapan pun kita membutuhkan berita cukup klik website penyedia berita secara online seperti&nbsp;<a href="http://detik.com" title="http://detik. " target="_blank">detik.com</a>, berbagai macam informasi dapat diakses secara praktis, efektif, dan efisien. Kemudahan ini pun menggeser <em>image</em> koran cetak sebagai <em>soulmate</em> secangkir kopi di pagi hari. Di era <em><a href="http://telkomspeedy.com/">internet</a></em> yang semakin mudah diakses oleh siapa saja, secangkir kopi telah berganti pasangan, dari satu edisi koran cetak menjadi netbook atau laptop yang bisa menjangkau seluruh penjuru dunia.</p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal" style="text-align: left"><img class="aligncenter" src="http://www.kedaiberita.com/images/resized/images/stories/libniz/rokok_alkohol_200_180.jpg" alt="" width="200" height="180" /></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: left">Sayangnya, kemajuan teknologi informasi dan komunikasi masih belum digunakan se-optimal mungkin, khususnya di Indonesia. Pengguna <em><a href="http://telkomspeedy.com/">internet</a></em> di Indonesia bagaikan seorang binaragawan yang kecanduan rokok dan alkohol. Dari luar ia tampak keren bin hebat, tapi bagaimana dengan kondisi dalam tubuhnya? Ia digerogoti berbagai macam penyakit karena kebiasaan buruknya. Begitu pula dengan pengguna <em><a href="http://telkomspeedy.com/">internet</a></em> di Indonesia; jika dipandang dari kulitnya saja, para pengguna<a href="http://telkomspeedy.com/"> <em>internet</em></a> tampak canggih dan mengikuti perkembangan zaman, ditunjang pula dengan <em>gadget</em> yang mereka miliki: netbook, modem, sampai ponsel pintar untuk akses <em><a href="http://telkomspeedy.com/">internet</a></em> yang mampu dibawa ke mana saja. Namun, jika ditilik lebih lanjut, ternyata sebagian besar pengguna <em><a href="http://telkomspeedy.com/">internet</a></em> di Indonesia belum menggunakan fasilitas yang ada untuk sesuatu yang bermanfaat. Survey dari PT Telkom Indonesia menyatakan bahwa 90% akses <em><a href="http://telkomspeedy.com/">internet</a></em> di Indonesia hanya digunakan untuk akses pada jejaring sosial (Facebook, Twitter) serta situs yang kurang bermanfaat.</p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal">Nah, untuk “merehabilitasi” pengguna<a href="http://telkomspeedy.com/"> <em>internet</em></a> (khususnya di Indonesia) dari kecanduan serta penyalahgunaan <em><a href="http://telkomspeedy.com/">internet</a></em>, diperlukan adanya <strong><a href="http://telkomspeedy.com/">internet</a> sehat</strong>. <em><a href="http://telkomspeedy.com/">Internet</a></em> sehat merupakan suatu langkah untuk memfokuskan penggunaan <a href="http://telkomspeedy.com/">internet</a> pada konten yang bersifat positif, mendidik, dan berguna bagi perkembangan tiap individu. Langkah ini juga ditujukan untuk meminimalisir bahkan memblokir konten-konten yang bersifat negatif dan merusak mental bangsa, terutama generasi muda.</p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal">Bagi penyedia jasa internet atau <em>internet service provider </em>(ISP), <em><a href="http://telkomspeedy.com/">internet</a></em> sehat bisa dimulai dengan mengirimkan informasi tentang <a href="http://telkomspeedy.com/"><em>internet</em></a> sehat kepada konsumennya masing-masing. Sosialisasi ini sebaiknya mengikutsertakan bagaimana cara memblokir konten negatif (memasang <em>filter</em>) dari jaringan <em><a href="http://telkomspeedy.com/">internet</a></em> para pengguna. Beberapa universitas dan perusahaan telah menerapkan filter jaringan pada beberapa situs jejaring sosial, video, dan game. Langkah ini dianggap perlu agar para mahasiswa dan pekerja mampu berkonsentrasi di tempat mereka menuntut ilmu/bekerja.</p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal">Agaknya filter pada ISP pun belum cukup jika tidak ada kemauan dari diri kita sendiri untuk ikut menciptakan <em><a href="http://telkomspeedy.com/">internet </a></em>sehat. Sehat dalam menggunakan teknologi bukanlah berarti menggunakan-nya untuk hal-hal yang terlalu serius atau hanya untuk tujuan edukasi formal saja. Ada kalanya kita mengakses situs jejaring sosial untuk berkomunikasi dengan teman-teman, namun jangan terlarut di dalamnya. Sebaiknya kita juga mengakses informasi lain terkait dengan perkembangan dunia setiap harinya; berita nasional dan internasional, ilmu pengetahuan populer, e-book online, dll.</p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal">Akses pada konten positif seperti yang telah dicontohkan di atas membuat wawasan kita semakin luas. Kita bisa mengetahui apa yang terjadi di belahan bumi yang lain dengan membaca berita internasional. Ilmu pengetahuan populer, setidaknya, membantu kita memahami peristiwa sederhana dalam keseharian dan kaitannya degan ilmu pengetahuan. E-book online, yang kini mulai menjamur, dapat membuka lebar cakrawala pengetahuan dan pemikiran kita. Semua fasilitas yang ada di dunia maya tersebut akan menjadi sia-sia jika kita tidak menggunakannya untuk mengembangkan diri.</p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal" style="text-align: left"><img class="aligncenter" src="http://www.duniafitnes.com/wp-content/uploads/2009/09/10_langkah_mendapatkan_lengan_yang_kuat.jpg" alt="" width="256" height="172" /></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: left">Dengan <em><a href="http://telkomspeedy.com/">internet</a></em> sehat, kita bisa lebih merasakan manfaat <em><a href="http://telkomspeedy.com/">internet</a></em> di berbagai aspek; bukan hanya sebagai media komunikasi, namun juga sebagai media informasi dan edukasi. Selain memperkaya aspek kompetensi, <em><a href="http://telkomspeedy.com/">internet</a></em> sehat juga mengasah ketajaman nurani tiap pribadi dalam memilah-milah antara konten yang negatif dan positif. Kompetensi dan hati nurani tentu saja sangat diperlukan sebagai suplemen dalam pembangunan bangsa; juga sebagai bekal dasar bagi kaum muda sebagai tunas bangsa untuk membawa perubahan ke arah yang lebih baik.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: left">Jadi, mulailah ber-<a href="http://telkomspeedy.com/"><em>internet</em></a> sehat dari sekarang agar kita mampu membangun bangsa ini menjadi lebih hebat. Ingat selalu bahwa di dalam pengguna <em><a href="http://telkomspeedy.com/">internet</a></em> yang &#8217;sehat&#8217; terdapat bangsa yang kuat.</p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal">
</fieldset>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rynlec.blogdetik.com/2010/11/17/internet-sehat/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
	</channel>
</rss>

<!-- Dynamic Page Served (once) in 0.718 seconds -->

