Pintar Akademis dan Peduli Sosial

loliud1

Menerapkan standar akademik tinggi, plus disiplin tinggi dalam proses belajar mengajar. Biaya sekolah dengan subsidi silang. Mengasah siswa menjadi generasi pembaharu dunia yang unggul dan peduli sesama.

Jam sekolah sudah selesai. Sekolah juga sudah sepi. Namun, Jumat malam di akhir April itu, delapan siswa masih tampak sibuk di depan ruang kelas. Mereka, para siswa SMA Kolese Loyola Semarang itu, sedang menyiapkan karya untuk pelajaran seni. Styrofoam dan cat air berceceran di depan kelas. Inilah Loni atau Loyola Night. Loni menjadi tradisi yang secara mandiri digelar siswa SMA yang berlokasi di Jalan Karanganyar, Semarang, itu.

Mereka belajar mandiri secara berkelompok di luar sekolah. Tak hanya pelajaran seni, juga bermacam pelajaran lainnya. Biasanya salah satu siswa yang unggul dalam satu mata pelajaran menjadi mentor. Loni semakin giat dilakukan tatkala menjelang ujian. Pihak sekolah sendiri tak mengharuskan Loni itu, tapi mendorong dan memfasilitasinya.

Wakil Kepala SMA Kolese Loyola Bidang Kesiswaan, Romo Albertus Buddy Haryadi, menuturkan bahwa tradisi Loni itu terbentuk untuk memperkuat kemampuan siswa. Loni sangat membantu siswa untuk berprestasi. “Mereka yang pintar bisa berbagi dan yang tertinggal bisa turut memberi sesuatu,” katanya. Pada saat ini, ada 685 siswa di SMA Loyola. Rencananya untuk tahun ini, daya tampung sekolah ini dinaikkan menjadi 720-730 siswa.

Siswa secara sukarela menjalani Loni itu karena SMA Loyola menerapkan standar tinggi dalam hal akademis. Selama studi, mereka harus mendapatkan nilai minimum 70 di setiap mata pelajaran. Siswa yang nilainya di bawah standar harus mengikuti jam ekstra dengan pendampingan guru.

Dalam hal kedisiplinan, SMA Loyola juga menerapkan aturan ketat. Misalnya, siswa tak boleh mencontek selama ujian. Hukumannya, siswa akan dikeluarkan bila ketahuan dua kali mencontek. “Bahkan ketahuan nyontek sekali saja bisa terancam tak lulus,” kata Romo Buddy. Contoh lainnya adalah kedisiplinan dalam menjaga kebersihan sekolah dan datang sebelum jam pelajaran dimulai.

Tak hanya pendidikan akademis, SMA loyola juga mewajibkan siswa kelas I dan II mengikui dua kegiatan ekstrakurikuler (ekskul), yaitu seni dan olahraga. Ekskul seni itu antara lain paduan suara, melukis, dan karawitan. Sejak tahun 1960, Kolese Loyola memiliki Grup Gamela Soepra, kombinasi antara gamelan, band, dan biola yang memainkan nada-nada diatonis, bukan pentatonis.

Sedangkan ekskul olahraga antara lain sepak bola, bola basket, tenis meja, bola voli dan bulu tangkis. di luar itu, juga ada kegiatan ekskul yang lain, yakni kepemimpinan, komputer, jurnalistik, karya ilmiah, dan fotografi. Baik pelajaran akademis maupun ekskul itu berada dalam bimbingan guru yang berjumlah 54 orang. “Sebanyak 14 orang di antaranya S-2,” ujar Romo Buddy.

Berbagai kegiatan di SMA Loyola itu, kata Romo Buddy, ditujukan untuk mencetak generasi pembaharu dunia yang unggul dalam bidang akademis dan kepribadian. Hal ini dituangkan dalam tiga prinsip: competence, conscience, dan compassion.

Competence, mengacu pada keunggulan akademik. SMA LOyola bekerja sama dengan Universitas New South Wales dan Monash, Australia, pada tahun ini. “Lulusan Loyola bisa langsung mendaftar di kampus itu,” katanya. Selain itu, Kolese Loyola juga punya program pertukaran pelajar dengan Wahyan College di Hong Kong dan St. Ignatius, Adelaide, Australia.

Conscience menyangkut kesadaran dan hati nuarni. Hal ini dilakukan melalui pendidikan olahraga dan seni. Juga ada pendidikan agama. Sekolah ini berada dalam naungan ordo Serikat Jesus (SJ) — Sama dengan Kolese Kanisius, Gonzaga, dan De Britto.

Perbedaan sekolah dalam naungan ordo ini dibandingkan dengan sekolah Katolik lainnya ada pada pengajarannya. Jika sekolah Katolik lain diajar oleh bruder atau suster, di sekolah ini siswa langsung diajar oleh para romo atau imam. “Sehingga pengajaran akademik dan spiritual bisa langsung dan menyatu,” tutur Romo Buddy.

Sedangkan compassion berkaitan dengan kepedulian sosial. Ada program live in selama lima hari di pedesaan Wonosari, Gunung Kidul, Yogyakarta. Dalam kegiatan ini, siswa mengunjungi panti asuhan dan rumah sakit jiwa. “Bukan sekedar berkunjung, melainkan juga ikut bekerja menjadi petugas sosial.” Romo Buddy menambahkan. Selama program live in itu mereka tinggal di rumah penduduk.

Sepintas, murid SMA Loyola terlihat bebas. Mereka tidak mengenakan seragam. Menurut Romo Buddy, tradisi tak berseragam ini punya alasan. “Itu bagian dari kecerdasan siswa untuk menimbang pakaian yang tepat dan pantas ia kenakan ke sekolah,” katanya.

Adapun untuk biaya sekolah, Romo Buddy menolak menyebutkan besarannya. “Yang jelas, ada subsidi silang,” ujarnya. Subsidi silang ini, misalnya, berlaku bagi Anisa Fajaryani. Pada saat masuk SMA Loyola, ia sebenarnya tak dikenai uang masuk. “Tapi saya nggak enak, maka saya bayar saja Rp 500.000,” kata Sawabi, ayah Anisa Fajaryani.

Untuk SPP, ia hanya membayar Rp 50.000 ketika duduk di kelas I dan Rp 60.000 pada saat kelas II. Bagi siswa yang kaya,uang pangkal masuk sekolah ini bisa mencapai Rp 15 juta hingga Rp 30 juta. Untuk SPP, ada yang membayar lebih dari Rp 1 juta.

Keluarga Anisa Fajaryani memang tergolong kurang mampu. Ayahnya seorang tukang becak dengan penghasilan harian Rp 10.000 hingga Rp 40.000. “Tergantung ramai penumpang atau nggak,” tutur Sawabi.

Sawabi menjadi tukang becak sejak 1999, setelah di-PHK dari posisinya sebagai pegawai toko. Ia sempat mencoba berdagang angkringan, tapi selalu dikejar-kejar petugas satpol PP hingga banting setir menjadi tukang becak.

Ketika mendapat keringanan biaya sekolah dari SMA Loyola, Sawabi tak perlu menyertakan surat keterangan miksin. “ada survei diam-diam. Pokoknya kami harus jujur dan jangan minder,” katanya.

Ira Puspitasari, alumnus SMA Kolese Loyola Semarang tahun 1984, menilai model subsidi silang itu tak hanya meringankan siswa yang tidak mampu. “Juga mendidik orangtua murid memiliki jiwa sosial dengan membantu yang lemah,” kata ibu tiga anak itu.

Sebagai alumnus SMA Loyola, Ira kesengsem pada model pengajaran di almamaternya. Karena itulah ia juga menyekolahkan anaknya di SMA Loyola. Anak keduanya, Claudia Tejasaputra, kini duduk di bangku kelas II> Anak sulungnya, Chintya Tejasaputra, yang kini sedang kuliah di Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, juga lulusan SMA Loyola.

Ira berencana, anak bungsunya, David Tejasaputra, juga akan disekolahkan di Kolese Loyola. Kini David masih duduk di kelas II SMP.

Kolese Loyola, kata Ira, memiliki keunggulan tersendiri, sehingga ia ingin semua anaknya masuk sekolah ini. “Loyola tak hanya menekankan pada pendidikan akademis, melainkan juga kepedulian sosial,” katanya.

Pintar secara akademis, menurut Ira, sangat penting. Tapi kalau tak memiliki kepedulian sosial terhadap lingkungannya, sama juga bohong. “Mereka akan hidup di masyarakat dan harus bisa bergaul dengan baik,” Ira menambahkan.

Irwan Andri Atmanto dan Arif Koes Hernawan (Semarang)

– Dikutip dari Majalah Gatra Edisi Khusus Pendidikan No. 26 tahun XVIII. 5-11 Mei 2011–


1 teman anda menyukai tulisan ini
Apakah anda menyukai tulisan ini ?
May 11th, 2011 at 2:28 PM




One Response to “Pintar Akademis dan Peduli Sosial”

  1.    rynlec Says:

    Bangga karena Kolese Loyola termasuk dalam salah satu 40 sekolah unggulan. Namun sepertinya ada beberapa hal yang perlu dikoreksi dari tulisan di atas.
    Kegiatan live in memang mengunjungi Wonosari bagi KKL Kelas X, sementara kegiatan mengunjungi panti asuhan dan rumah sakit jiwa adalah bagian dari ekskursi yang ditujukan pada KKL Kelas XI.

Leave a Reply