Maastricht Guide - Perjalanan Singkat Nekad Traveller

Maastricht? Pertama kali mendengar tentang kota itu, bayangan yang terlintas di kepalaku adalah kota terpencil di ujung selatan Belanda. Benar-benar terpencil, mungkin seperti ‘desa’-nya Belanda. Maka dari itu aku sudah mengubur dalam nafsu belanja dari sebelum berangkat, dengan asumsi nggak ada yang bisa kita lakukan di desa selain menikmati pemandangan dan berkompetisi seperti yang telah dijadwalkan.
Perjalanan Jakarta-Dubai-Amsterdam ditempuh dalam waktu 18 jam. Terimakasih kepada Garuda Indonesia atas kenyamanan dan keramahan yang senantiasa menemani selama perjalanan
Sampai di Amsterdam, kami bertemu Pak Munir, staf KBRI di Belanda. Beliaulah yang mengantarkan kami membeli tiket untuk ke Maastricht. Saat itu hari Selasa, 5 April 2011, dari Schiphol Amsterdam, kami harus berganti kereta di Utrecht untuk menuju Maastricht. Perjalanan Amsterdam-Maastricht memakan waktu kurang lebih 2 jam.
Sesampainya di sana, kami dijemput oleh Student Committee dari ICCC 2011; Milad dan Otis. Kejadian memalukan saat aku mau masuk mobil. Kemudi mobil eropa kan berada di sebelah kiri, berkebalikan dengan kemudi di Indonesia. Nah, dengan pedenya aku masuk ke sebelah kiri, begitu buka pintu, lalu nyeletuk “Lho kok setir?” Sementara ketiga teman seperjalananku ketawa nggak berhenti di bangku belakang.
Hal pertama yang kami lakukan adalah makan! kebetulan sekali letak hotel yang kami pesan secara online berada di dekat pusat kota. di sebelah kanan ada McD, di seberang hotel ada Zara, toko buku, dan berbagai macam pusat perbelanjaan yang lain, sementara di sebelah kiri terdapat Albert Heijn, yang lalu menjadi supermarket favorit kami.
Hari pertama kami menghabiskan malam di Maastricht dengan makan sushi dan sour belt yang kami beli di Albert Heijn. Gara-gara jet lag, kami sudah tertidur pukul 19.30 dan bangun jam 04.00 tanpa tahu apa yang harus dikerjakan. alhasil, kami berempat berada di satu kamar sambil nonton Dora The Explorer versi belanda, dan menemukan bahwa bahasa belanda yang diserap oleh Indonesia lumayan banyak juga, salah satunya plakban! Baru kali ini merasakan serunya nonton dora the explorer.
Berikut fakta yang berhasil kudapatkan:
1. Toko-toko di Maastricht buka dari Senin-Sabtu, Minggu Libur. Itupun hanya buka dari jam 10.00-18.00, di hari Sabtu, rata-rata mereka tutup jam 17.00. Sementara hari kamis, toko buka sampai pukul 21.00.
2. Kalau belanja dan minta tas plastik, kita akan di charge 20 sen. Jadi itulah kenapa banyak orang yang kutemui di sana pada bawa tas belanjanya masing-masing.
3. Banyak gereja di sana yang sudah tidak terpakai karena ditinggalkan umatnya. khusus yang satu ini memang agak memprihatinkan karena bangunan gereja di Maastricht benar-benar mengagumkan; dan sekarang kebanyakan dari tempat itu telah beralih fungsi menjadi apa saja, salah satunya toko buku.
4. Meskipun di Google Map Maastricht digambarkan begitu luas, dan kemana-mana jauh. Ternyata Maastricht itu kecil kok. Nggak sengeri yang terbayangkan saat membaca google map (ini mungkin bukan kesalahan peta, tetapi kesalahan yang membaca karena nggak memperhatikan skala)
5. Suhu udara waktu musim semi seperti ini berkisar 8-17 derajat Celcius. Tapi kalau beruntung bisa sampai 20. Matahari terbit sekitar pukul 07.00 waktu setempat, dan baru terbenam pukul 20.30.
6. Siapa bilang Maastricht bukan tempat belanja? Maastricht adalah surga belanja! karena kotanya relatif kecil, kita nggak perlu naik alat transportasi apapun untuk pergi dari satu tempat belanja ke tempat belanja yang lain. Mereka semua deketan kok! Tapi ya tentu saja bukan dekat dengan definisi orang Indonesia lho ya. Pusat Perbelanjaan terletak di sekitaran Town Hall; ada H&M, Esprit, The Sting, dll. Ada juga toko sepatu di basement; tapi harus pinter-pinter milih juga karena nggak semua sepatunya enak; maklum, merk nya juga agak nggak jelas gitu.
Tempat yang selalu rame kalo siang itu di Muntstraat, Grotestraat, dan gang-gang kecil di daerah sekitaran Vrijhoft yang lain. Kanan kiri isinya toko semua; mulai dari toko buku, baju, pernak pernik, supermarket, sejujurnya yang paling banyak sih sepatu. Nah toko sepatu di sini lebih mahal harganya, tapi memang sepatunya lebih nyaman dipakai.
Kalau mau beli oleh-oleh khas maastricht, coba deh ke Platielstraat dan sekitarnya. Tapi kalau khas Belanda, beli aja di Blokker, pilihannya banyak. Ada juga sih satu toko di daerah Townhall, deketnya Burger King, tapi sepertinya lebih enak milih di Blokker, mungkin karena Blokker itu supermarket ya, jadi lebih meyakinkan. Jangan lupa kalau beli barang pecah belah, minta dibungkusin dulu.
Tempat yang jual asian cuisine itu di daerah Townhall, turun aja pake eskalator ke basement, tempatnya di sebelah Jumbo. Ada patung kucing khas cina yang melambai-lambai itu. Sementara kalau makanan dan cemilan biasa, Albert Heijn tergolong murah sih, dan lengkap lagi.
*tips belanja: jangan heran kalau nemuin barang2 di sana yang “Made in Indonesia”; dan jangan pula dibeli. Rata-rata barang di Maastricht buatan Indonesia, Bangladesh, Cambodia, dan tak lupa China. Sekalinya liat barang, bagus, tapi begitu “made in China” wah langsung kabur, ilfil. Juga tidak disarankan beli barang elektronik di sana. Karena apa? Karena rata-rata barang elektronik (HP, lensa, kamera, dll) buatan Cina juga, lebih murah beli di Indonesia.
7. Di Maastricht, harga susu relatif lebih murah. Saranku mending beli susu yang fresh, jangan yang halfvolle karena itu rasanya kaya keju, eneg banget. Nggak semua orang bisa suka, kecuali memang benar-benar penggemar susu.
8. Tempat makan? Pertama kali sih kami ketemu sama tempat makan yang namanya “Something Good” yang menyajikan menu halal dan juga menu vegetarian. Harganya lumayan terjangkau, lebih murah dan lebih mengenyangkan daripada McDonalds. Tempatnya ada di Tongersestraat, dekat Fakultas Ekonomi-nya Maastricht University. Di dekat “Something Good” juga ada Kiwi. Resto ini punya desain interior yang hampir sama kaya Dixie nya Jogja :p harga makanannya emang lebih mahal sih, tapi yang nyenengin adalah porsi dan rasa makanan nggak pernah mengecewakan walau harganya mahal.
9. Berhati hatilah kalau pesen atau makan keju. karena nggak semua keju enak seperti yang biasa kita makan di Indonesia.
10. Yang wajib dikenal (paling nggak kenal lah ya, ga usah beli juga gapapa kalau merasa sudah terlalu tua) adalah boneka kelinci khas belanda yang namanya Miffy, dalam bahasa belanda, namanya Nijntje (baca; naince) Bisa dibeli di blokker, tapi ada juga toko tersendiri yang khusus menjual pernak pernik miffy. Namanya de winkel van nijntje. tokonya di gang deket sungai Maas, tapi aku nggak tahu persisnya di mana. Cuma siap-siap aja kalau mau beli yang besar, bonekanya bisa lebih mahal dari sepatu Timberland :p
11. Kalau mau tau jadwal kereta api yang berangkat dari Schiphol ke Maastricht, liat link ini aja http://www.ns.nl/cs/Satellite/travellers; Kalau bepergian di hari Minggu, harus transit dua kali, agak merepotkan sih, apalagi buat yang bawa koper berat.
12. Kalau musim dingin nggak usah bawa baju banyak-banyak. menurut pengamatanku, orang-orang di sana ganti baju bisa tiga hari sekali; karena emang nggak berkeringat. Jadi sewaktu berangkat, mending bawa baju dikit aja, nanti beli ‘isi koper’ di Maastricht
Segini dulu deh info sotoy dari Nekad Traveller yang cuma 5 hari efektif di Maastricht. Daaag..