Internet-ku Sehat, Bangsaku Kuat

17 Nov 2010

Perkembangan IPTEK cenderung memanjakan komunitas di zaman ini. Semuanya menjadi serba mudah, cepat, dan cenderung murah dibandingkan dengan sistem yang dulu ada. Ibarat artis dangdut, surat elektronik sangat populer, sementara pengiriman surat melalui kantor pos sudah tidak populer karena dimakan usia. Selain itu, pengiriman surat elektronik dianggap lebih praktis, hemat waktu dan tenaga. Kita tidak perlu repot-repot mengorbankan jam makan siang dan bertarung di bawah sengatan sinar matahari untuk pergi ke kantor pos; tinggal duduk di depan laptop, mencari koneksi internet, dan mengirimkan pesan saat itu juga melalui surat elektronik alias e-mail.

Kemudahan lain yang kita dapatkan dari internet misalnya dalam hal pertemanan melalui jejaring sosial. Kita bisa terhubung dengan keluarga, kerabat, dan teman-teman dalam satu situs yang menawarkan berbagai macam fasilitas; berbagi foto, video, tulisan, bertukar komentar, saling memberi kabar, mengucapkan selamat ulangtahun, bahkan situs jejaring sosial pun kini menjadi sarana untuk mengirimkan undangan acara (pernikahan, seminar, pesta ulangtahun). Tampaknya hampir semua kebutuhan komunikasi manusia dapat terakomodasi dalam satu situs jejaring sosial.

Dengan adanya internet, kita juga bisa mendapatkan kabar yang aktual. Kapan pun kita membutuhkan berita cukup klik website penyedia berita secara online seperti detik.com, berbagai macam informasi dapat diakses secara praktis, efektif, dan efisien. Kemudahan ini pun menggeser image koran cetak sebagai soulmate secangkir kopi di pagi hari. Di era internet yang semakin mudah diakses oleh siapa saja, secangkir kopi telah berganti pasangan, dari satu edisi koran cetak menjadi netbook atau laptop yang bisa menjangkau seluruh penjuru dunia.

Sayangnya, kemajuan teknologi informasi dan komunikasi masih belum digunakan se-optimal mungkin, khususnya di Indonesia. Pengguna internet di Indonesia bagaikan seorang binaragawan yang kecanduan rokok dan alkohol. Dari luar ia tampak keren bin hebat, tapi bagaimana dengan kondisi dalam tubuhnya? Ia digerogoti berbagai macam penyakit karena kebiasaan buruknya. Begitu pula dengan penggunainternet di Indonesia; jika dipandang dari kulitnya saja, para pengguna internet tampak canggih dan mengikuti perkembangan zaman, ditunjang pula dengan gadget yang mereka miliki: netbook, modem, sampai ponsel pintar untuk akses internet yang mampu dibawa ke mana saja. Namun, jika ditilik lebih lanjut, ternyata sebagian besar pengguna internet di Indonesia belum menggunakan fasilitas yang ada untuk sesuatu yang bermanfaat. Survey dari PT Telkom Indonesia menyatakan bahwa 90% akses internet di Indonesia hanya digunakan untuk akses pada jejaring sosial (Facebook, Twitter) serta situs yang kurang bermanfaat.

Nah, untuk merehabilitasi pengguna internet (khususnya di Indonesia) dari kecanduan serta penyalahgunaan internet, diperlukan adanya internet sehat. Internet sehat merupakan suatu langkah untuk memfokuskan penggunaan internet pada konten yang bersifat positif, mendidik, dan berguna bagi perkembangan tiap individu. Langkah ini juga ditujukan untuk meminimalisir bahkan memblokir konten-konten yang bersifat negatif dan merusak mental bangsa, terutama generasi muda.

Bagi penyedia jasa internet atau internet service provider (ISP), internet sehat bisa dimulai dengan mengirimkan informasi tentang internet sehat kepada konsumennya masing-masing. Sosialisasi ini sebaiknya mengikutsertakan bagaimana cara memblokir konten negatif (memasang filter) dari jaringan internet para pengguna. Beberapa universitas dan perusahaan telah menerapkan filter jaringan pada beberapa situs jejaring sosial, video, dan game. Langkah ini dianggap perlu agar para mahasiswa dan pekerja mampu berkonsentrasi di tempat mereka menuntut ilmu/bekerja.

Agaknya filter pada ISP pun belum cukup jika tidak ada kemauan dari diri kita sendiri untuk ikut menciptakan internet sehat. Sehat dalam menggunakan teknologi bukanlah berarti menggunakan-nya untuk hal-hal yang terlalu serius atau hanya untuk tujuan edukasi formal saja. Ada kalanya kita mengakses situs jejaring sosial untuk berkomunikasi dengan teman-teman, namun jangan terlarut di dalamnya. Sebaiknya kita juga mengakses informasi lain terkait dengan perkembangan dunia setiap harinya; berita nasional dan internasional, ilmu pengetahuan populer, e-book online, dll.

Akses pada konten positif seperti yang telah dicontohkan di atas membuat wawasan kita semakin luas. Kita bisa mengetahui apa yang terjadi di belahan bumi yang lain dengan membaca berita internasional. Ilmu pengetahuan populer, setidaknya, membantu kita memahami peristiwa sederhana dalam keseharian dan kaitannya degan ilmu pengetahuan. E-book online, yang kini mulai menjamur, dapat membuka lebar cakrawala pengetahuan dan pemikiran kita. Semua fasilitas yang ada di dunia maya tersebut akan menjadi sia-sia jika kita tidak menggunakannya untuk mengembangkan diri.

Dengan internet sehat, kita bisa lebih merasakan manfaat internet di berbagai aspek; bukan hanya sebagai media komunikasi, namun juga sebagai media informasi dan edukasi. Selain memperkaya aspek kompetensi, internet sehat juga mengasah ketajaman nurani tiap pribadi dalam memilah-milah antara konten yang negatif dan positif. Kompetensi dan hati nurani tentu saja sangat diperlukan sebagai suplemen dalam pembangunan bangsa; juga sebagai bekal dasar bagi kaum muda sebagai tunas bangsa untuk membawa perubahan ke arah yang lebih baik.

Jadi, mulailah ber-internet sehat dari sekarang agar kita mampu membangun bangsa ini menjadi lebih hebat. Ingat selalu bahwa di dalam pengguna internet yang ’sehat’ terdapat bangsa yang kuat.


TAGS FESTIVAL BLOG 2010


-

Author

Follow Me

Search

Recent Post